Pelajar Indonesia Kenalkan Nusantara Lewat Tarian dan Makanan

Pelajar Indonesia Kenalkan Nusantara Lewat Tarian dan Makanan

DELFT, BELANDA, KOMPAS.com-- Pelajar Indonesia di Delft, Belanda, memperkenalkan budaya nusantara dengan menampilkan dua tarian tradisional dan suguhan panganan khas  pada acara malam budaya yang diselenggarakan oleh Delft University of Technology (TU Delft), di Belanda, pada 30 Agustus 2012.

Acara tersebut merupakan rangkaian akhir dari kegiatan program pengenalan untuk menyambut mahasiswa internasional baru yang akan menempuh pendidikan sarjana maupun master tahun akademik 2012/2013 di universitas teknologi tersebut.

Para pelajar Indonesia yang tergabung dalam Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Delft menampilkan tari tradisional Jali-jali dari Jakarta dan Sipatokaan dari Sulawesi Utara yang dibawakan oleh anak-anak Indonesia serta panganan khas Indonesia seperti lemper, bakwan, tempe goreng, kelepon, pisang goreng dan es cendol.

Menurut Ketua PPI Delft, Sayuta Senobua yang saat ini sedang kuliah master di jurusan ’Engineering Policy Analysis’ (EPA) pada Fakultas ’Technology, Policy and Management’,  kegiatan ini adalah kesempatan yang baik untuk mengenalkan Indonesia di hadapan komunitas akademik internasional.

"TU Delft merupakan salah satu universitas teknologi besar di Eropa bahkan dunia dengan jumlah mahasiswa mencapai belasan ribu dari berbagai negara. Ini kesempatan kita untuk menunjukkan keberadaan dan potensi Indonesia yang kaya akan budaya kepada dunia internasional," kata Sayuta di Delft, Belanda, Jumat (31/8).

Tari Jali-jali yang dibawakan oleh lima mahasiswi Indonesia yang saat ini menempuh kuliah master di Institute for Water Education (Unesco-IHE), Delft , cukup menghibur para penonton walaupun dengan persiapan yang terbatas.

"Kami bukan penari profesional dan waktu untuk berlatih sangat kurang karena harus menyesuaikan dengan jadwal kuliah yang padat. Awalnya agak grogi tapi begitu melihat suasana panggung yang meriah dengan penonton yang ramai kami justru jadi rileks dan ikut ceria," kata seorang penari Kuntarini Rahsilawati.

Busana tradisional serta lagu Jali-jali yang mengiringi gerakan yang dinamis dari para penari tak pelak membuat para penonton memberikan apreasiasi dengan bertepuk tangan usai penampilan tersebut.

Antusiasme para penonton bertambah besar tatkala beberapa saat kemudian muncul tujuh anak perempuan dalam balutan busana khas Makassar (Sulawesi Selatan) dengan kipas di tangan, sembari menghentakkan kaki-kaki mereka mengikuti iringan musik. Penonton pun ikut bertepuk tangan sesaat mendengar irama lagu Sipatokaan yang gembira.

Penampilan lima belas menit para penari Jali-jali dan Sipatokaan cukup memukau para hadirin dan pujian datang dari beberapa penonton.  "Mereka sangat bagus," ujar salah satu penyelenggara program pengenalan mahasiswa internasional TU Delft 2012 Valia Gkeredaki seraya berharap tahun depan PPI Delft dapat menampilkan kembali tarian tradisional Indonesia.

Panganan

Suguhan panganan khas nusantara pun menuai beragam komentar positif.  Dari beberapa kue yang disediakan di gerai PPI, bakwan menjadi makanan yang paling diminati para pengunjung.

"Semua makanan yang kita sediakan laris tapi yang paling disukai bakwan," jelas seorang anggota PPI Delft Louis Marcel yang bertugas menyambut para pengunjung.

Dua mahasiswa asal Iran Samaneh dan Dena menyatakan apresiasinya atas penampilan mahasiswi Indonesia dan makanan yang disediakan. "Orang-orang Indonesia hebat. Makanannya enak. Yang paling saya suka tempe goreng,"ujar Samaneh yang ditimpali komentar senada oleh Dena.

Selain makanan ringan tersebut para mahasiswa Indonesia juga membuat semacam tantangan bagi para pengunjung untuk menghabiskan dua potong keripik Maicih yang terbuat dari singkong asal Bandung (Jawa Barat) dengan rasa sangat pedas.

Menurut Marcel, tantangan ini dinamakan ’Indonesian Fear Factor’ dan cukup menarik perhatian para pengunjung karena bukan hanya mengundang rasa penasaran akan rasa pedas keripik Maicih yang ’membakar lidah’ tapi juga hadiah yang bisa diperoleh jika mampu menghabiskan dua potong keripik tersebut.

"Kalau berhasil menghabiskan dua potong saja hadiahnya gantungan kunci khas Indonesia yang berbentuk wayang atau batik, sekalian promosi Indonesia," ujar Marcel seraya menambahkan orang-orang barat yang mencoba tantangan itu mengaku tidak kuat dengan rasa pedas keripik.

Dukungan

Penampilan PPI Delft pada acara malam budaya  di kampus TU Delft tersebut melibatkan hampir seluruh pelajar Indonesia yang sedang menempuh kuliah sarjana dan master serta doktoral baik di TU Delft maupun Institute for Water Education (Unesco-IHE).

Selain itu, masyarakat Indonesia yang telah cukup lama bermukim di kota Delft, Den Haag dan Schiedam pun turut mendukung keikut sertaan PPI Delft di ajang budaya itu.

Tujuh anak berusia antara 8 hingga 11 tahun yang membawakan tarian Sipatokaan merupakan anak-anak warga Indonesia yang telah lama bermukim di Belanda. Selain itu ada juga anak-anak yang orang tua mereka sedang menempuh pendidikan di Delft.

Perasaan senang dan bangga disampaikan oleh Nida Mufidah dan Rufaidah Assyifa yang menarikan Sipatokaan selepas tampil di panggung. Walaupun tidak lancar berbahasa Indonesia, dua kakak beradik yang masih duduk di bangku sekolah dasar ini mengatakan dengan semangat agar tahun depan dapat tampil kembali dalam acara budaya membawakan tarian-tarian tradisional Indonesia.

Sementara itu, pelatih tari yang juga merupakan mahasiswa doktoral di TU Delft, Ida Nurhamidah, mengatakan anak-anak tersebut sangat senang membawakan tarian tradisional pada acara malam budaya di kampus TU Delft sehingga walaupun hanya berlatih tiga kali penampilan mereka cukup baik bahkan berbuah pujian dari para penonton.

"Ini cara agar anak-anak mengenal budaya mereka sekaligus melatih kepercayaan diri untuk tampil di depan banyak orang," ujarnya.
Hal serupa disampaikan oleh Sunarti Hersink yang sudah 15 tahun menetap di Belanda. Dia mengatakan anak-anak Indonesia yang lahir dan tumbuh di Belanda harus mengenal budaya tradisional mereka.

Dukungan juga didapatkan dari Kedutaan Besar Republik Indonesia di Den Haag melalui atase pendidikan dan kebudayaan Ramon Mohandas. "Penampilan mahasiswi dan anak-anak Indonesia sangat meriah, bagus dan membanggakan. Ini yang pertama kali di Delft dan harus dilanjutkan agar dunia internasional semakin mengenal Indonesia," ujarnya.

Berkaitan dengan kesan masyarakat internasional khususnya di lingkungan kampus baik TU Delft maupun IHE, Ketua PPI Delf Sayuta mengatakan mereka selalu memberi kesan yang baik kepada masyarakat Indonesia termasuk para pelajar.

"Mereka sering mengatakan masyarakat Indonesia walaupun beragam, semangat kekeluargaan mereka sangat tinggi. Kekayaan budaya dan keuletan masyarakatnya juga menjadi sorotan masyarakat internasional," kata Sayuta.--Pelajar Indonesia di Delft, Belanda, memperkenalkan budaya nusantara dengan menampilkan dua tarian tradisional dan suguhan panganan khas  pada acara malam budaya yang diselenggarakan oleh Delft University of Technology (TU Delft), di Belanda, pada 30 Agustus 2012.

Acara tersebut merupakan rangkaian akhir dari kegiatan program pengenalan untuk menyambut mahasiswa internasional baru yang akan menempuh pendidikan sarjana maupun master tahun akademik 2012/2013 di universitas teknologi tersebut.

Para pelajar Indonesia yang tergabung dalam Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Delft menampilkan tari tradisional Jali-jali dari Jakarta dan Sipatokaan dari Sulawesi Utara yang dibawakan oleh anak-anak Indonesia serta panganan khas Indonesia seperti lemper, bakwan, tempe goreng, kelepon, pisang goreng dan es cendol.

Menurut Ketua PPI Delft, Sayuta Senobua yang saat ini sedang kuliah master di jurusan ’Engineering Policy Analysis’ (EPA) pada Fakultas ’Technology, Policy and Management’,  kegiatan ini adalah kesempatan yang baik untuk mengenalkan Indonesia di hadapan komunitas akademik internasional.

"TU Delft merupakan salah satu universitas teknologi besar di Eropa bahkan dunia dengan jumlah mahasiswa mencapai belasan ribu dari berbagai negara. Ini kesempatan kita untuk menunjukkan keberadaan dan potensi Indonesia yang kaya akan budaya kepada dunia internasional," kata Sayuta di Delft, Belanda, Jumat (31/8).

Tari Jali-jali yang dibawakan oleh lima mahasiswi Indonesia yang saat ini menempuh kuliah master di Institute for Water Education (Unesco-IHE), Delft , cukup menghibur para penonton walaupun dengan persiapan yang terbatas.

"Kami bukan penari profesional dan waktu untuk berlatih sangat kurang karena harus menyesuaikan dengan jadwal kuliah yang padat. Awalnya agak grogi tapi begitu melihat suasana panggung yang meriah dengan penonton yang ramai kami justru jadi rileks dan ikut ceria," kata seorang penari Kuntarini Rahsilawati.

Busana tradisional serta lagu Jali-jali yang mengiringi gerakan yang dinamis dari para penari tak pelak membuat para penonton memberikan apreasiasi dengan bertepuk tangan usai penampilan tersebut.

Antusiasme para penonton bertambah besar tatkala beberapa saat kemudian muncul tujuh anak perempuan dalam balutan busana khas Makassar (Sulawesi Selatan) dengan kipas di tangan, sembari menghentakkan kaki-kaki mereka mengikuti iringan musik. Penonton pun ikut bertepuk tangan sesaat mendengar irama lagu Sipatokaan yang gembira.

Penampilan lima belas menit para penari Jali-jali dan Sipatokaan cukup memukau para hadirin dan pujian datang dari beberapa penonton.

"Mereka sangat bagus," ujar salah satu penyelenggara program pengenalan mahasiswa internasional TU Delft 2012 Valia Gkeredaki seraya berharap tahun depan PPI Delft dapat menampilkan kembali tarian tradisional Indonesia.

Sumber :
ANT
Editor :
Jodhi Yudono
$title
COMMENTS (1)
  1. Tshepo
    Tshepo

    October 10, 2012

    Thanks for your thoughts. It's hleped me a lot.

Leave a Comment